Categories
Parenting

Menjawab Tantangan Generasi Net Bag3

“Oleh sebab itu, Mama dan Papa harus memahami yang namanya pendekat an manajemen perilaku dan modifikasi perilaku,” jelasnya. Seperti apa pendekatan itu? Seorang ahli perilaku bernama Skinner meyakini perilaku anak dapat dikuatkan ke arah positif, ketika orangtua sebagai pelatih, dapat mengajak mereka menetapkan target perilaku dalam kurun waktu tertentu, dan konsisten dalam menjalankan peran monitor dan evaluasinya.

Baca juga : kerja di Jerman

Ahli lain bernama Bandura mengatakan, mengajak anak mendiskusikan manfaat dan risiko dari pemakaian gadget berlebihan, juga akan membuat mereka tidak sekadar mematuhi aturan lantaran terpaksa, namun menurunkan rasa frustrasi karena tahu alasan dan manfaat dari perilaku mengurangi pemakaian gadget. “Bandura sangat meyakini bahwa memilih ‘model’ yang tepat untuk ditiru oleh anak, akan sangat memengaruhi kecepatan mereka meng ubah perilakunya. Model dapat berasal dari orangtua, namun untuk usia tertentu (menginjak SD dan remaja), anak mulai melihat teman sebagai model yang paling kuat. Jadi orangtua harus pandai-pandai mencarikan model sebaya yang ideal bagi anak.”

Satu hal yang harus dicatat, ketika anak diminta mengurangi waktu pemakaian gadget, orangtua harus memikirkan apa aktivitas penggantinya. Papa Marey, misalnya, memilih terlibat langsung ke halhal yang anak sukai, sambil memperkenalkan buah hatinya pada kegiatan-kegiatan baru, “Misalnya ngajak mancing, liat serangga, main hujan, menggambar, dan lainnya. Kalau saya larang main gadget, kebanyakan gagalnya! Nah, kalau dengan cara yang tadi saya sebutkan, malah sering berhasil.” Della pun setuju dengan alternatif kegiatan untuk anak ini. “Jangan berharap anak akan mengubah perilaku ketika kita tidak memerhatikan kebutuh an mereka yang merasa ‘kesepian’ atau ‘menganggur’.

Masalah terbesar dalam memperbaiki perilaku anak adalah karena orangtua tidak senang melihat anak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget, tapi mereka sendiri tidak dapat menciptakan iklim dan suasana yang menarik bagi anak (mati gaya dan kalah rame dari gadget),” kata Della. Nah, bagaimanan dengan Mama Papa? Siap mengikuti kekinian agar dapat duduk berdiskusi dengan anak? Jangan lupa, samakan frekuensi komunikasi. Tak perlu memaksa anak untuk menyetujui cara kita meski cara itu kita anggap lebih baik karena sudah teruji. Ajak juga para Generasi Net untuk tidak hanya mencari informasi melalui gadget melainkan juga membuktikan dengan mengalami langsung. Pasti bisa. Selamat menghadapi Generasi Net!

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Sudah Siapkah Si Kecil Masuk TK? Bag4

Atau bagaimana kita mudah jatuh iba jika anak berkata tidak mau sekolah karena lebih suka berada di rumah bersama kita. Ingat lagi apa tujuan kita menyekolahkannya. Jangan sampai malah kita yang terlalu memanjakan anak dengan menuruti semua keinginannya. Jadi, ada kalanya kita harus cukup tega agar anak lebih mandiri, jangan kita terus-terusan mengiyakan keinginannya.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Dengan lingkungan sekolah yang tepat, anak bisa terlatih mandiri dan mengurus dirinya sendiri. Kita juga perlu sounding (memperkenalkan) lebih dulu soal sekolah pada si kecil. Jelaskan bahwa di sekolah, anak akan bertemu dengan teman dan guru baru. Sampaikan pula bahwa untuk sekolah, ia harus bangun, mandi, dan sarapan lebih pagi dari biasanya. Semua informasi ini perlu kita sampaikan agar persepsi awal anak tentang sekolah menjadi positif. Ajak pula anak ke sekolah sebelum sekolahnya dimulai. Jadi, anak sudah punya gambaran seperti apa dan di mana sekolahnya.

Bagaimana jika anak belum siap? Satu hal yang perlu diingat, kesiapan sekolah setiap anak berbeda-beda. Belum lagi faktor pembiasaan orangtua yang berbeda-beda. Ada anak yang biasa diajak pergi sejak bayi, ada anak yang lebih sering di rumah dan jarang bertemu orang baru. Hal ini tentu berpengaruh pada kemampuan anak beradaptasi, mungkin anak jadi lebih cemas dan sering menangis pada awal-awal masuk sekolah. Namun, jangan sampai karena anak masih terus menangis dan tidak mau ditinggal lalu anak malah jadi tidak bersekolah.

Tetap minta anak bersekolah dengan membujuknya pelanpelan. Beritahu guru mengenai kondisi anak kita, jika memang membutuhkan perhatian lebih. Pada akhirnya, pendidikan di TK bermanfaat untuk memberikan dasar-dasar pengetahuan dan pembinaan karakter anak sebelum ia masuk jenjang sekolah sebenarnya. Dengan metode bermain, anak bisa mengembangkan seluruh potensi diri, sekaligus meletakkan fondasi karakter yang kuat lewat peraturan dan disiplin yang diterapkan sekolah. Untuk itu, penting bagi kita memilih TK yang tepat bagi anak, karena justru pada jenjang TK, semua dasar pendidikan anak diberikan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Categories
Parenting

Memuji Si Kecil Dengan Bijak Bag3

Insan menuturkan, jika pujian diberikan terlalu sering dan berlebihan, anak akan terbiasa mendapat sanjungan atau reward dengan cara yang mudah. “Anak cenderung ingin selalu menang, sehingga tak tahu bagaimana rasanya kalah atau lebih buruk daripada orang lain,” kata Insan. Bagian otak yang mengatur emosi anak akhirnya tidak terlatih untuk merasakan ketidaknyamanan.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Anak akan merasa superior dari teman-temannya. Begitu ada temannya yang lebih pintar, hebat atau jago daripada anak, ia tidak bisa menerimanya dengan baik. Bahkan, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri anak saat tidak ada orang yang memerhatikan atau memuji dirinya. Kadang jika anak merasa hasilnya tak cukup bagus, ia malah berkata, “Aku nggak bisa gambar, Pa, gambarku jelek!” Hal ini menunjukkan terlalu banyak pujian juga bisa membuatnya kurang yakin pada dirinya sendiri. Tanpa disadari, anak jadi cenderung menahan diri dan merasa terbebani untuk selalu tampil bagus, sehingga ia ragu pada kemampuannya sendiri.

Kalau sudah begini, anak jadi takut mencoba hal baru. Ia takut gagal, takut tidak dipuji lagi. Pun saat ia gagal, ia akan sulit menerimanya dan merasa terbebani. “Dipuji akhirnya menjadi indikator anak agar percaya diri,” kata Insan. Jika dipuji pintar atau baik, anak yakin pada dirinya atau tindakan yang ia lakukan. Menurut Insan, tidak hanya narsistik saja yang akan terbentuk jika perilaku memuji emosional ini terus diberikan, tetapi juga kepribadian histrionik, yakni perilaku mencari perhatian untuk mendapatkan pujian.

Pujian Yang Tulus

Bagaimana jika kita menghadapi masalah seperti yang dicemaskan oleh Rasti? Insan menuturkan, kita tidak usah khawatir karena masih banyak waktu untuk berdiskusi dengan anak mengenai konsep dirinya saat ini. Misalnya, ketika si kecil berkata, “Ma, aku pintar, kan bisa buang sampah sendiri?” jawablah dengan, “Terima kasih ya, Kak.” Kita meng apresiasi usahanya, bukan memuji seberapa bagus hasilnya. Sebab jika kita terus-terusan memuji segala tindakan yang dilakukan anak, ia akan terus-menerus berusaha melakukan suatu hal demi membuat kita terkesan. Kepribadian seseorang sendiri akan terus berevolusi sampai anak dewasa nanti. Jangan khawatir, hal ini masih bisa kita perbaiki secara perlahan.

Sumber : pascal-edu.com