Categories
Uncategorized

UFO Venzha Ternyata Asli Loh

juga punya video UFO yang diperlambat. Pada 2013, ia mengabadikan tulisan ”Hollywood” di Los Angeles, California. Ia kaget karena melihat cahaya benda langit yang terbang. Venzha pun mengunggah ke situsnya. Tidak sekali ini Venzha membuat proyek seni serupa mengenai UFO. Ia juga membuat di sejumlah negara, di antaranya Taiwan dan Amerika Serikat.

Dalam proyeknya, ia selalu melibatkan ahli, misalnya ahli astrofisika. Untuk karya di Art Jog ini, alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, tersebut bekerja sama dengan Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI), lembaga peneliti tanda-tanda kehidupan cerdas di luar bumi yang berkantor pusat di California, Amerika. Menurut Venzha, SETI berisi orang-orang dari kalangan pemerhati ruang angkasa amatir hingga ahli profesional yang tersebar di banyak negara. Mereka banyak memanfaatkan radio astronomi untuk memperoleh frekuensi.

Pada 2015, Venzha mendapat undangan dari sebuah museum di Korea Selatan. Dibantu pengelola museum itu, Venzha berhasil menemui pendiri SETI Korea Selatan, Profesor Myung Hyun Rhee. ”Prof Myung memberikan banyak contoh data elektronik dan cara membaca frekuensi,” kata Venzha. Karya Venzha di Art Jog ini akan dibawa ke Korea Selatan pada 31 Agustus tahun ini. Karya Venzha menjadi bagian dari SeMa Biennale Mediacity Seoul 2016.

l l l SECARA konseptual, boleh-boleh saja Venzha berbicara tentang hal-hal semacam fiksi ilmiah. Tapi terasa karya itu tidak menyita perhatian pengunjung dibanding landmark Art Jog pada tahuntahun sebelumnya, seperti karya Yoko Ono atau boneka-boneka karya Samsul Arifin. ”Menara itu kurang mencuri perhatian secara visual,” kata Kuss Indarto, pengamat seni rupa.

Pendapat serupa disampaikan kritikus seni rupa yang mengajar di Institut Teknologi Bandung, Aminudin T.H. Siregar atau biasa dipanggil Ucok. Ia menyayangkan Venzha yang mengabaikan sisi estetik dan tidak tuntas dalam menciptakan karya seni.

Ucok membandingkan dengan menara yang dibuat mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITB, yang jauh lebih artistik, fungsional, dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Meski tidak bertujuan menghasilkan karya seni, menara ciptaan mahasiswa ITB yang dibuat pada 2015 itu menurut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *